Disertasi Tan Lie Ing: LRT Bandung Raya Tak Cukup Hanya Bangun Jalur

BANDUNG — Rencana pengembangan Light Rail Transit (LRT) di Bandung Raya dinilai tidak akan otomatis membuat masyarakat meninggalkan kendaraan pribadi. Tanpa waktu tunggu yang singkat, akses stasiun yang mudah, serta layanan pengumpan yang terintegrasi, LRT berisiko tidak menjadi pilihan utama warga.

Hal itu menjadi salah satu kesimpulan dalam disertasi Tan Lie Ing berjudul “Pemodelan Pemilihan Moda Transportasi dengan Adanya Layanan Light Rail Transit di Bandung Raya.” Penelitian tersebut dipresentasikan dalam sidang terbuka Program Doktor Teknik Sipil Universitas Tarumanagara, Jakarta, pada 9 Juli 2026.

Tan Lie Ing meneliti pilihan perjalanan masyarakat Bandung Raya dengan membandingkan delapan moda transportasi, yaitu mobil pribadi, sepeda motor pribadi, mobil berbasis aplikasi, ojek daring, angkutan kota, bus, kereta api lokal Bandung Raya, dan LRT.

Penelitian menggunakan pendekatan discrete choice model dan mixed logit untuk membaca faktor-faktor yang memengaruhi keputusan masyarakat dalam memilih moda perjalanan.

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa waktu tunggu dan biaya perjalanan memiliki pengaruh besar terhadap minat masyarakat menggunakan LRT. Artinya, keberadaan jalur baru belum tentu cukup apabila penumpang harus menunggu lama atau mengeluarkan biaya lebih tinggi dibandingkan moda yang biasa digunakan.

Di wilayah Bandung Raya, kendaraan pribadi masih dipilih karena dianggap lebih fleksibel. Pengguna dapat berangkat langsung dari rumah dan tiba lebih dekat ke tempat tujuan tanpa perlu berpindah kendaraan.

Karena itu, LRT perlu didukung layanan pengumpan yang menjangkau kawasan permukiman, pusat pekerjaan, sekolah, kampus, pusat perdagangan, serta simpul transportasi lainnya. Integrasi tersebut diperlukan agar perjalanan penumpang tidak berhenti di stasiun.

Salah satu kebijakan yang dinilai paling efektif adalah integrasi tarif antara LRT dan bus pengumpan. Dengan sistem pembayaran terpadu, penumpang tidak perlu membayar secara terpisah setiap kali berpindah moda.

Skema itu juga dapat menekan biaya perjalanan secara keseluruhan. Bagi masyarakat, harga tiket bukan hanya dihitung dari perjalanan di dalam kereta, tetapi sejak berangkat dari rumah hingga tiba di tujuan.

Selain tarif, kualitas operasional menjadi faktor penting. Frekuensi perjalanan harus cukup rapat, jadwal perlu dapat diprediksi, dan waktu tempuh harus mampu bersaing dengan kendaraan pribadi. Kenyamanan, keamanan, dan keandalan layanan juga menentukan apakah masyarakat akan menggunakan LRT secara rutin.

Temuan tersebut menegaskan bahwa pembangunan transportasi massal tidak dapat dilakukan secara terpisah dari penataan sistem transportasi kota. Pemerintah perlu menyiapkan jaringan pengumpan, fasilitas perpindahan moda, jalur pejalan kaki, area naik-turun penumpang, serta akses yang aman menuju stasiun.

Tan Lie Ing juga menyoroti pentingnya dukungan kebijakan pemerintah, termasuk kemungkinan subsidi. Dukungan tersebut dapat diberikan untuk menjaga tarif tetap terjangkau sekaligus memastikan operator mampu mempertahankan kualitas pelayanan.

Tanpa integrasi antarmoda, LRT berpotensi hanya digunakan oleh masyarakat yang tinggal atau bekerja di sekitar jalur. Sebaliknya, jaringan yang terhubung dengan bus, angkutan kota, kereta lokal, dan layanan transportasi lainnya dapat memperluas jangkauan pengguna.

LRT Bandung Raya diharapkan menjadi salah satu jawaban atas persoalan kemacetan yang terus terjadi di kawasan perkotaan Bandung dan wilayah sekitarnya. Namun, manfaat tersebut baru dapat tercapai apabila masyarakat benar-benar bersedia beralih dari kendaraan pribadi.

Disertasi Tan Lie Ing memberi catatan penting bagi perencana transportasi: keberhasilan LRT tidak semata-mata diukur dari selesainya rel dan stasiun. Ukuran yang lebih menentukan adalah seberapa mudah masyarakat menggunakan layanan tersebut untuk menjalani perjalanan sehari-hari.

Melalui disertasi tersebut, Tan Lie Ing ditetapkan sebagai Doktor Teknik Sipil ke-114 Universitas Tarumanagara. Ia juga tercatat sebagai dosen di Universitas Kristen Maranatha.

Siapakah Tan Lie Ing?

Tan Lie Ing adalah akademisi dan peneliti teknik sipil yang berfokus pada bidang transportasi. Ia merupakan dosen Program Sarjana Teknik Sipil, Fakultas Teknologi dan Rekayasa Cerdas, Universitas Kristen Maranatha, Bandung. Ia telah mengajar di universitas tersebut sejak 1994.

Tan Lie Ing menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik Sipil di Universitas Kristen Maranatha pada 1994. Ia kemudian memperoleh gelar Magister Teknik pada bidang Civil and Environmental Engineering dari Institut Teknologi Bandung pada 1999.

Pada 9 Juli 2026, ia menyelesaikan Program Doktor Teknik Sipil di Universitas Tarumanagara. Dalam sidang terbuka tersebut, Tan Lie Ing ditetapkan sebagai Doktor Teknik Sipil ke-114 Untar. Karena pembaruan profil kampus tidak selalu langsung dilakukan, direktori Maranatha saat ini masih menampilkan gelarnya sebagai S.T., M.T., sedangkan berita resmi Untar telah mengonfirmasi kelulusan doktornya.

Sumber

  1. Universitas Tarumanagara — Disertasi Tan Lie Ing Bahas Strategi Peningkatan Penggunaan LRT di Bandung
  2. Media Indonesia — LRT Bandung Raya Dinilai Mampu Kurangi Kemacetan dan Ubah Pola Transportasi
  3. Jurnal Inovasi dan Pembangunan Infrastruktur Berkelanjutan — Dampak Light Rail Transit terhadap Pemilihan Moda Komuter di Bandung Raya
  4. Universitas Kristen Maranatha — Profil Dosen Tan Lie Ing
  5. Universitas Kristen Maranatha — BRIN Ajak Teknik Sipil Maranatha Berkolaborasi dalam Bidang Transportasi

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *